MAROEBOEN

Maroeboen adalah nama sebuah Partuanon di Harajaon Tanoh Djawa, Simaloengoen pada masa jaman Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur.

Selasa, 07 Agustus 2012

Museum Simalungun


Penulis : M Nur Irwansyah Sinaga SH.



Sejarah berdiri Museum Simalungun


Berawal dari disertasi Dr. A.N.J. Th. Van Der Hoop berjudul "Megalitich Remains in South Sumatera" (1932) mengupas tentang  megalitik di Sumatera Selatan.

Berdasarkan hal tersebut Kontelir Simalungun yang bernama G.L. Tichelman melakukan penelitian di Simalungun dengan mengundang Raja Marpitu, Tichelman menyarankan agar melaksanakan Harungguan Bolon (Rapat Akbar) membicarakan tentang  warisan megalitik yang ada di Simalungun.

Pada tanggal 5 September 1935 dilaksanakanlah Harungguan Bolon tersebut dengan kesepakatan menghunjuk salah seorang yang bernama M Purba, untuk melakukan survey ke setiap daerah yang memiliki warisan megalitik. Warisan megalitik yang sangat berharga pada masa itu adalah patung (batu) Silapalapa yang berasal dari daerah Partuanon Hutabayu Marubun, atas izin dari Tuan Hutabayu Marubun Radja Ihoet Sinaga  pada tahun 1938 patung Silapa-lapa dibawa oleh Voorhoeve  ke  Negeri Belanda dan disimpan di Museum Rijks Amsterdam.

Museum Simalungun


 Tanggal 10 April 1939 Museum Simalungun didirikan atas prakarsa  Raja Marpitu (7 raja-raja Simalungun) dengan biaya 1.650 gulden dan pada tgl 30 April 1940 museum Simalungun diresmikan.
Dengan diresmikannya museum Simalungun tersebut raja-raja marpitu memberikan sumbangan untuk mengisi koleksi museum berupa Pustaha Lak-lak, Patung-patung batu peninggalan megalitik, peralatan dapur, peralatan makan, peralatan tenun, peerhiasan emas dan perak, koin dan uang dan lain sebagainya

Maka oleh karenanya selain dari pada benda-benda yang menjadi koleksi, Museum Simalungun merupakan lembaran peristiwa sejarah yang sangat penting bagi bangsa Simalungun, mengingat kepedulian raja-raja marpitu terhadap generasi yang akan datang untuk tidak melupakan sejarah Simalungun.
Yang perlu di garis bawahi Museum Simalungun ini yang pertama sekali berdiri di Sumatera Utara, Museum Simalungun berdiri atas sumbangan para raja marpitu dan bukan milik Pemerintah.

Pada tahun 1968 dimasa kepemimpinan bupati Radjamin Purba, SH, Museum Simalungun yang keseluruhannya terbuat dari kayu tersebut di renovasi, karena banyak kerusakan disana sini.
Namun perbaikan museum tidak dapat bertahan lama mengingat bangunannya yang terbuat dari kayu. Untuk menyelamatkan benda-benda koleksi Museum maka pada tahun 1982 pada masa bupati Letkol (Purn) JP. Silitonga Museum tersebut diruntuh dan dibangun kembali dengan bahan dari semen namun tetap meniru bentuk aslinya. Bangunan yang baru dengan ukuran 8 x 12 m didirikan diatas lahan seluas 1.500 m2, di lokasi yang sama.

Koleksi Museum Simalungun.

Berbagai koleksi yang ada di Museum Simalungun yang terletak di Pusat kota Pematangsiantar antara lain adalah :

Dihalaman depan museum terdapat situs-situs peninggalan megalitik diantaranya buah catur raja nagur yang berukuran sebesar manusia, patung batu seorang ibu yang memangku 2 orang anak, patung orang yang menunggangi gajah, patung-patung ini berasal dari Kerajaan Tanah Jawa.

Didalam museum ditemukan berbagai macam koleksi antara lain :

1.    Peralatan Rumah Tangga seperti :
-    Parborasan = Tempat menyimpan beras
-    Pinggan Pasu = Piring nasi untuk Raja
-    Tatabu = Tempat menyimpan air
-    Abal-abal = Tempat menyimpan garam
-    Samborik = tempat sirih terbuat dari kuningan
-   Baluhat = tempat air dari bamboo
-   Sapah = piring dari kayu
-   Patiman = mangkok tempat lauk pauk terbuat dari kayu


2.    Peralatan Pertanian seperti :
-     Losung = alat penumbuk padi
-    Wewean = alat memintal tali
-    Hudali = cangkul jaman dulu
-    Assuan = cangkul dari batang enau
-    Tajak = Alat membajak tanah
-    Parlobong = kayu utk membuat lobang menanam bibit padi
-    Agadi  = Alat menyadap nira
-    dsb.

3.    Peralatan Perikanan seperti :
-    Bubu = Penangkap Ikan dari Bambu
-    Taduhan = Tempat menyimpan ikan
-    Hirang-lurang = Jaring penampung ikan
-    Hail = Kail
-    dsb.

4.    Alat-alat Kesenian seperti :
 -    Ogung   
 -    Sarunai
 -    Mong-mong   
 -    Sordam
 -    Hesek   
 -    Arbab
 -    Gondrang   
 -    Husapi,
 -   dsb.

5.    Alat-alat perhiasaan, seperti :
-    Suhul gading =  keris
-    Raut = pisau
-    Gotong = Penutup kepala laki-laki
-    Bajut = Tas Wanita
-    Bulang = Tudung kepala Wanita
-    Suri-suri = Selendang Wanita
-    Gondit = Ikat pinggang pria
-    Doramani = Perhiasan topi pria menandakan kedudukan.


Benda-benda koleksi Museum Simalungun

Benda-benda koleksi Museum Simalungu
 
Kondisi Saat ini

Pada Hut Museum Simalungun ke 71  tahun 2011 yang lalu penulis berkunjung kemuseum,
kondisi museum memprihatinkan, baran-barang  peninggalan sejarah itu dibiarkan lapuk dan tidak terawat tanpa adaya upaya pengawetan dan perawatan yang maksimal, bahkan ada yang hanya diletakkan dilemari tanpa penutup juga banyak yang diletakkan begitu saja dilantai maupun disandarkan di dinding.
Pengunjung yang datang ke museum juga sangat sedikit bahkan dari tahun ke tahun semakin berkurang, ini dapat dilihat dari data pengunjung yang tertera di kantor museum.


Tidak ada upaya meramaikan kunjungan ke museum oleh pengelola yang di percayakan kepada Yayasan Museum, ini terjadi karena tidak dibekali ilmu permuseuman, begitu juga petugas yang ada hanya sebatas honorer yang minus pengetahuannya di bidang permuseuman termasuk juga pengetahuan terhadap benda-benda koleksi dan sejarahnya yang ada di museum serta yang paling utama adalah dukungan dana yang sangat minim oleh pemerintah daerah, sehingga upaya mengenalkan museum dan perawatan terkendala.

Meriam, koleksi Museum Simalungun

Koleksi Museum Simalungun banyak yang berhilangan, cerita seorang teman benda-benda koleksi yang tinggal hanya berkisar 20% dari jumlah yang ada sebelumnya.
Menurut cerita orang tua penulis bahwa di museum tersebut tersimpan bibit/butir padi sebesar buah kelapa, tengkorak manusia, pedang, meriam dan lain sebagainya.
Namun ketika penulis berkunjung ke museum, butir padi, tengkorak manusia, pedang, meriam yang dikatakan orang tua penulis sudah tidak kelihatan lagi, hal ini juga dibenarkan teman penulis, dimana pada masa kanak-kanak dia sering berkunjung ke museum tersebut di bawa orang tuanya dan masih ada dilihatnya butir padi tersebut.
Yang menjadi pertanyaan kepada kita “kemanakah benda-benda tersebut raibnya?”
“Siapa yang bertanggung jawab dengan raibnya benda-benda tersebut?”.

Kalau sudah demikian halnya apalagi yang dapat disajikan sebagai informasi kepada generasi mendatang tentang peradaban yang berkaitan erat dengan kebudayaan 7 Kerajaan Simalungun pada masa lalu


Menurut penulis kurangnya ke pedulian Pemerintah Kabupaten Simalungun di karenakan Museum itu sendiri saat ini berada di wilayah administratif Pemerintahan Kota Pematang Siantar yang dulunya merupakan wilayah Kabupaten Simalungun, sementara lahan dan museum serta benda-benda yang ada diatasnya merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten Simalungun berdasarkan latar belakang berdirinya Museum Simalungun itu sendiri, kemungkinan hal ini yang membuat keengganan pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk secara serius menangani museum simalungun tersebut.

Reaksi Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Pada tanggal 22-2-2011 Bupati Simalungun JR Saragih datang berkunjung ke Museum Simalungun yang berada di Jalan Sudirman Kota Pematang Siantar yang disambut oleh ketua Yayasan Museum Simalungun Jomen Purba, bupati menyampaikan rasa prihatinnya menyaksikan kondisi bangunan Museum Simalungun ini dihadapan Ketua Yayasan Museum, para wartawan dan sejumlah SKPD yang mendampingi bupati.

Pemerintah Kabupaten Simalungun merencanakan akan memindahkan Museum Simalungun ke Pamatang Raya yaitu ke ibukota kabupaten Simalungun.
Museum yang baru direncanakan akan menggunakan Gedung Kantor Bupati yang tidak dipergunakan lagi karena membutuhkan biaya yang sangat besar untuk perbaikan gedung apabila dipergunakan sebagai kantor pemerintahan, sebaiknya dimanfaatkan menjadi Museum Simalungun dengan biaya perbaikan yang tidak terlalu besar, dirancang menjadi berstandard International.

Bupati mengatakan, dalam proses perpindahan museum ini nantinya akan di bentuk panitia yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat Simalungun serta keturunan dari  ketujuh raja-raja Simalungun  yaitu, Raja Siantar, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Dolok Silou dan Silimakuta.

Namun rencana Bupati Simalungun tersebut menjadi perbincangan hangat di tengah tengah masyarakat Simalungun ada yang pro dan kontra. Yang menjadi permasalah adalah letak dan rencana berdirinya museum simalungun itu sendiri merupakan Tonggak sejarah yang sangat penting bagi masyarakat simalungun serta Museum dibangun atas Prakarsa Raja-raja di Simalungun dan bersama mengumpulkan dana untuk pembangunannya, letaknya sangat strategis untuk dikunjungi baik oleh wisatawan manca Negara maupun wisatawan lokal karena merupakan daerah perlintasan menuju ke Danau Toba Prapat, kalau museum di pindahkan ke raya akan sepi dari kunjungan karena letaknya yang tidak strategis karena bukan jalan perlintasan yang ramai.  Apabila dipindahkan akan hilang salah satu sejarah yang pernah ada di bumi simalungun. Masyarakat berharap di lokasi yang lama itu cukup untuk dibangun kembali museum simalungun yang bertaraf international yang di prakarsai oleh pemerintah kabupaten simalungun bekerjasama dengan pemerintahan kota siantar yang juga merupakan wilayah masyarakat adat simalungun serta meminta bantuan pemerintah pusat.


Bagaimana tanggung jawab masyarakat Simalungun?

Komunitas Jejak Simalungun  (KJS) sebuah komunitas yang berbadan hukum bergerak dibidang sejarah dan budaya Simalungun, didalam komunitas tersebut berkumpul generasi muda Simalungun pecinta sejarah dan budaya simalungun yang bersikap militant. Komunitas ini didalam menjalankan kegiatannya bersifat independen tanpa dukungun dari pihak pemerintah, mereka bergerak dengan biaya dari masing-masing anggotanya juga bantuan simpatisan dari sesama pecinta sejarah dan budaya Simalungun.

Melihat kondisi Museum Simalungun yang mati suri Komunitas Jejak Simalungun mencoba memancing/ mencuri perhatian agar museum ramai kembali dan pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemerintah Kota Siantar mau peduli dengan masa depan Museum Simalungun tersebut.

Penulis bersama Rudin H Purba, Ketua KJS yang pertama, di acara HUT Museum Simalungun

Rangkaian Suasana HUT Museum Simalungun ke 71 tahun 2011

Memanfaatkan momentum HUT Museum Simalungun yang ke 71 pada tanggal 30 April 2011, dengan bermodalkan uang yang hanya cukup membeli sebuah kue tart ulang tahun, KJS menghubungi semua anggotanya dan simpatisan yang ada di luar daerah untuk dapat membantu biaya pelaksanaan HUT dimaksud. Akhirnya kebutuhan tenda, sound system, dan makanan ringan dan minuman  ala kadarnya dapat dipenuhi, serta papan bunga dari para simpatisan yang berada di luar daerah memenuhi halaman Museum Simalungun. Begitu juga dengan rekan seperjuangan dalam hal budaya yaitu Komunitas Tortor Elak Elak turut meramaikan acara dengan seni tortor dan diharnya.
Acara ini berlangsung dengan cukup meriah dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat seperti Mr Jariaman Damanik, dr Sarmedi Purba, perwakilan dari PMS, anggota DPRD Simalungun, Pemkab Simalungun juga masyarakat dan generasi muda Simalungun.

Setelah membuat acara HUT Museum Simalungun, KJS juga merencanakan dan membangun kafe budaya di halaman belakang museum dengan harapan banyak orang yang hadir untuk berdiskusi mengenai sejarah dan budaya Simalungun, dan diharapkan akan meramaikan museum dihari hari yang akan datang.

Dengan semangat membangun budaya simalungun KJS memprakarsai dibentuknya  sanggar budaya di Museum dengan mengadakan latihan tortor, dihar, gual dan doding, yang rutin dilaksanakan kepada para siswa yang berminat tanpa di pungut bayaran.
                                                                                                      
Pada akhir tahun 2011 tepatnya di bulan desember, Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu berlibur di Sumatera Utara untuk melaksanakan Misa Natal di Samosir, sebelum keberangkatan ibu menteri ke Samosir, KJS memprakarsai kehadiran ibu menteri di Museum Simalungun, kepada ibu menteri KJS menyerahkan proposal berupa rencana untuk memajukan Museum Simalungun.

Bagaimana nasib Museum Simalungun di hari yang akan datang? Mari kita lihat bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar