MAROEBOEN

Maroeboen adalah nama sebuah Partuanon di Harajaon Tanoh Djawa, Simaloengoen pada masa jaman Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur.

Jumat, 10 Agustus 2012

Penelusuran Situs Kerajaan Tanoh Jawa


Oleh :  M Nur Irwansyah Sinaga SH

 Pagi itu tanggal 1 Mei 2011, sambil menunggu rekan-rekan yang akan ikut menemani menelusuri situs Harajaon Tanoh jawa, kami menyantap, sarapan yang disediakan hotel tempat kami menginap. Selesai sarapan kamipun siap berangkat karena rekan-rekan yang ditunggu sudah pada kumpul.
Saya, Suhu Omtatok, Ida Damanik Halanita, Mahdani Sinaga, Farrah Aqiela Sinaga putri bungsu saya serta seorang supir dengan menggunakan mobil botou Ida Damanik meluncur di jalanan  kota, sesampainya di Pasar Horas Pematang Siantar kami berhenti untuk membeli keperluan yang dibutuhkan.
Perjalananpun dilanjutkan meninggalkan kota menuju arah Tanah Jawa, sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Simalungun, Prov Sumatera Utara.

Setengah jam perjalanan tibalah kami di daerah Kecamatan Tanah Jawa, mendapatkan simpang jalan disebelah kanan, Mahdani Sinaga memberi aba-aba kepada supir utk membelok. Suhu Omtatok minta berhenti untuk keluar dari mobil, sayapun turut keluar dari mobil dan inilah pertama kali saya menjejajakkan kaki diwilayah ini. Saya mengeluarkan kamera Slr dan membidik kearah nama jalan yaitu Jalan Sangmajadi. Sangmajadi adalah nama Raja Tanah Jawa ayah dari pemangku Kerajaan Tanah Jawa terakhir yaitu Raja Kaliamsjah Sinaga.

Kiri : Jalan Sang Majadi, kanan: Mesjid jamik bekas tapak Istana Kerajaan Tanah Jawa

Kemudian kami menelusuri jalan tersebut lebih kurang 100 meter kedalam sampailah kami di Mesjid Jamik. Dahulu tapak mesjid ini merupakan Istana/Rumah Bolon Kerajaan Tanah Jawa yang dibangun ketika Raja Djintar diangkat menjadi raja karena Istana yang lama di huta Pamatang Tanoh Jawa (biasa disebut Pamatang) sudah tidak layak lagi di jadikan istana karena sudah sangat tua dan sudah dihuni sampai 3 generasi dan tempat bangunan yang baru istana ini disebut huta dipar (desa diseberang). Pada tahun 80an oleh seluruh keturunan kerajaan Tanah Jawa sepakat lokasi ini dibangun mesjid karena istana sudah hancur dan rubuh.
Kami lanjutkan berjalan kaki ke samping mesjid lebih kurang 50 meter kami sampai di lokasi pemakaman yang di bertembok batu bata keliling kira-kira 9 x  15 m dan berpintu besi, kelihatan dari luar tembok baru di cat dan makam didalamnya baru dipugar berlantai keramik dan makam-makam yang ada di dalam juga di beri keramik berwarna hijau.
Informasi yang kami terima bahwa orang terpenting di Simalungun ini yang membiayai pemugaran makam ini. Setiba didalam makam kami berziarah ke makam opung Sangmadjadi Sinaga dilanjutkan ke makam yang lainnya, diataranya makam puang salak dan Tuan Kalam.

Budayawan Suhu Omtatok & Mahdani Sinaga membersihkan makam dan memberi hormat di Makam Op Sangmadjadi

Selesai ziarah kamipun naik ke mobil yang diparkir di mesjid dan melanjutkan perjalan, sopir mengarahkan kendaraan kembali kejalan raya dan berbelok kekanan, tak jauh berjalan kami mendapatkan kantor Kecamatan Tanah Jawa dan atas petunjuk rekan mobil berbelok ke kanan jalan yang berada disamping kantor kecamatan kemudian melewati jembatan sungai Bah Kisat sampailah kami di areal kebun sawit dan mobil berhenti, kami disambut oleh 2 orang yang masih keturunan dari keluarga Kerajaan yang bernama Ando Sinaga (Fernando) dan Okki Sinaga . Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Kami menelusuri kebun sawit yang sudah berumur 20 tahunan yang rindang membuat perjalanan lumayan sejuk walau jalan sedikit mendaki. Disepanjang jalan banyak ditemukan pecahan keramik/guci kuno berdasarkan informasi dulunya guci/keramik kuno ini adalah barang barang milik kerajaan/istana yang pada masa revolusi sosial tahun 1946 oleh pasukan Barisan Harimau Liar (BHL) istana di geledah mencari raja dan keluarganya untuk dibunuh dan harta benda yang terdapat diistana dirampok, sebahagian barang-barang tersebut yang terbuat dari pecah belah hancur dan berserakan di sepanjang jalan.

Bunga kamboja putih dibatu nisan Puang Bolon Namartuah boru Damanik (foto Farrah Aqiela br Sinaga)

Iringan rombongan kemudian berbelok kekiri mengikuti pemandu jalan oleh 2 orang sinaga tempatan tersebut. Setelah menerobos ladang jagung sampailah kami disebuah makam. Ando Sinaga  mengatakan ini adalah Jerat Baggal (makam besar) tetapi dia tidak tau siapa yang dimakamkan disitu karena dari dahulu mereka pantang menyebutkan nama orang yang paling dihormati sehingga generasi berikutnya tidak mengetahuinya, setelah berziarah dijerat baggal kami melanjutkan ke makam didekatnya. Menurut Suhu Omtatok (budayawan) makam ini adalah makam seorang wanita tetapi melihat batu nisannya (nisan kuno) menandakan yang dimakamkan disini adalah seorang raja sementara Ando Sinaga dan Oki Sinaga juga tidak mengetahui siapa yang dimakamkan disitu, dibatu nisan tidak ada tertulis nama orang yang dimakamkan tersebut. Ando Sinaga mengatakan makam yang satunya lagi adalah makam Raja Djintar, tidak salah lagi berdasarkan data yang ada sama penulis Raja Djintar dimakamkan didekat nininya puang bolon namartuah boru  Damanik yang pernah menjabat sebagai pemangku Kerajaan Tanah Jawa selama 2 tahun karena raja  meninggal dunia dan tidak jauh dari makam tersebut makam yang dinamai sebagai Jerat Baggal adalah makam Op Djintanari yaitu opung nini dari pada Raja Djintar, dimakam tersebut kami membersihkan halaman sekelilingnya yang dipenuhi rumput liar dan dedaunan yang berserakan dilanjutkan dengan ziarah.

makam raja-raja Kerajaan Tanoh Djawa di Pamatang Tanah Jawa

Kemudian kami berjalan meninggalkan makam Raja Djintar, jerat baggal dan makam puang bolon namartuah boru damanik, kami masih menemukan kumpulan makam-makam lainnya dari keluarga kerajaan yang letaknya terpisah dengan ketiga makam yang telah kami ziarahi. 

Tampak palas/umpak batu pondasi bekas Istana/Rumah Bolon Kerajaan Tanoh Jawa di huta Pamatang Tanoh Jawa

Kami berjalan mengikut dibelakang Ando Sinaga dan Oki Sinaga sebagai pemandu jalan, setelah jalan memutar disekitar ladang jagung kami menemukan palas/umpak pondasi bekas istana/rumah bolon teronggok dibeberapa tempat, areal ini dulunya adalah tempat berdirinya istana/rumah bolon Kerajaan Tanah Jawa lama yang dikenal sebagai Huta Maligas sebelum pindah ke huta dipar (lokasi mesjid jamik yang baru dikunjungi) perjalanan dilanjutkan berbelok kekanan, tidak lama berjalan belok kekiri menurun kebawah memasuki hutan, suasananya  gelap karena dikanan kiri jalan ranting pohon diatasnya telah menyatu membuat seperti terowongan dan banyak bergelantungan tanaman latong atau daun jelatang yang apabila tersentuh tubuh akan kegatalan yang luar biasa. Kami menemukan anak tangga dari semen menanjak keatas dan sampailah kami disebuah pelataran dari semen dan di situ ditemukan Patung Panglima Bungkuk menyepi sendiri berlumut tidak terawat jauh dari keramaian menyimpan cerita sejarah Kerajaan Tanah Jawa masa lalu yang belum terkuak sepenuhnya. Didepan patung  jauh kebawah (jurang) terdengar suara air bergemerincik mengalir kesuatu arah, kemungkinan anak sungai yang bersumber dari umbul/mata air tempat dimana raja-raja dahulu kala mandi membersihkan diri atau disebut “maranggir”. Kami membersihkan halaman yang terbuat dari semen yang penuh dengan dedaunan kering yang berjatuhan, ditemukan juga tempat membakar menyan, botol dan lainnya sebagai tanda ada yang pernah kemari utk melakukan ritual pemujaan atau meminta sesuatu di lokasi ini, dan ini dibenarkan oleh Ando Sinaga bahkan patung ini pernah dicoba untuk dibawa pergi oleh orang yang tidak bertanggung jawab namun  tidak berhasil.

Perjalanan menuju Situs Panglima Bungkuk


Setelah  mengunjungi patung panglima bungkuk kami kembali ketempat semula menuju rumah Ando Sinaga yang tidak jauh dari tempat parkir mobil untuk beristirahat sejenak  sambil berdiskusi, pada waktu itu pembicaraan mengenai Konsesi  Tanah milik kerajaan Tanah Jawa yang dikontrakkan dengan Pemerintah Belanda, Ando Sinaga memperlihatkan foto kopi surat kontrak yang halamannya cukup tebal yang dibuat dengan bahasa belanda dan bahasa arab gundul (arab melayu). Suhu Omtatok menterjemahkan bahasa belanda kebahasa Indonesia, dan Farrah Sinaga putri penulis sesekali menterjemahkan bahasa arab gundul (arab melayu) ke bahasa Indonesia.

kiri: tim di lokasi situs Panglima Bungkuk, tengah & kanan : Situs Panglima Bungkuk & Farrah Aqiela br Sinaga

Setelah hilang rasa penat kami pamit kepada Ando Sinaga dan Oki Sinaga karena akan melanjutkan perjalanan menuju “Parsimagotan” (tempat suci, tempat tulang belulang 12 raja Tanah Jawa dimakamkan, nama-nama Raja tersebut tidak diketahui), kedua sinaga ini ingin  ikut juga ke lokasi parsimagotan tersebut.
 Sesampai di lokasi Parsimagotan sesuai petunjuk Mahdani Sinaga (Mahdani Sinaga lahir dan besar di daerah ini) saya tidak menemukan apa yang dibenak saya tentang Parsimagotan yang pernah diceritakan orang tua kepada penulis. Sebahagian lokasi mendekati sungai menjadi lembah bentuk seperti periuk, masih ada sedikit tanah yang tinggi yang terdapat 2 batang pohon tua, didepannya terdapat sungai bah kisat, dikejauhan terlihat pertemuan 2 sungai bah kisat dengan bah tongguran, di delta tempat bertemunya 2 sungai tersebut adalah letak istana/rumah bolon kerajaan tanah jawa, patung Panglima bungkuk dan makam raja2 yang baru saja kami kunjungi. 

"Parsimagotan yg sdh luluh lantak akibat tangan2 manusia yg tdk punya nurani, hanya mementingkan diri sendiri.

Mahdani Sinaga menceritakan kalau dulu areal ini seperti bukit kecil sampai ke pinggir sungai (sesuai dengan yang diceritakan orang tua penulis), oleh developer pembangunan perumahan yang ada diatasnya “Perumnas Tanjung Pasir” lahan ini akan diratakan, dan akan dibangun perumahan menjadi satu kesatuan dengan yang ada diatasnya. Sewaktu hendak menumbangkan kedua pohon tersebut tidak ada yang mampu bahkan dengan mempergunakan greder/beko (alat berat) kedua pohon ini tidak dapat di tumbangkan, akhirnya lokasi ini ditinggalkan begitu saja menjadikan lembah landai dan dibawahnya tepat dipinggir sungai terdapat mata air yang sangat bening, tempat ini disebut Nai Dalan Bah.

Mata air Nai Dalan Bah didepan Parsimagotan

Setelah melakukan penghormatan kepada leluhur (mencoba mengikuti sesuai tatacara penghormatan kepada leluhur masa lalu sebelum adanya agama, bukan ingin melakukan perbuatan syirik) kamipun meninggalkan lokasi Parsimagotan tersebut karena sudah lewat tengah hari.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke pekan tanah jawa untuk mencari rumah makan, namun yang kami cari sesuai selera tidak kami temukan, perjalanan kami lanjutkan mengikuti jalan raya kemudian jalan berbelok kekanan menuju arah pasir mandoge, mobil yang kami tumpangi mengikuti motor yang dikendarai oleh Ando Sinaga, mendapatkan simpang di kanan jalan motor yang di kendarai Ando Sinaga membelok ke kanan memasuki areal perumahan “Perumnas Tanjung Pasir”.

Sesampai di areal perumahan yang telah dibangun kami melihat hampir seluruh rumah sudah ditempati, dan ditengah-tengah areal perumahan tersebut didapati sebuah bukit membentuk opal yang puncaknya mencapai ketinggian 4 meter dan luas keliling bukit tersebut kira-kira 200 m2. Kami menaiki puncak bukit tersebut, diatasnya terdapat sebuah makam yang menurut masyarakat setempat makam tersebut dipercaya sebagai makam Sitonggang raja setempat yang kalah bertarung dan tahtanya diambil oleh Sinaga yang menjadi Raja Kerajaan Tanoh Jawa. 

Petilasan  Sitonggang (Suhu Omtatok)

Diatas bukit tempat makam Sitonggang kami tidak terlalu lama mengingat tempat yang terbuka dan panas yang begitu teriknya, setelah turun dibawah dan berbincang sejenak dengan tokoh masyarakat di warung dalam komplek perumahan tersebut kamipun kembali ke Siantar mengingat perut yang tidak bisa diajak kompromi lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore.

Kamis, 09 Agustus 2012

Partuanon Maligas

Oleh : M Nur Irwansyah Sinaga SH.

Djintahari dianugerahi partuanon Maligas mempunyai putra bernama Timboel.
Kemudian partuanon Maligas dilanjutkan oleh Timboel.

Timboel mempunyai putra 5 orang masing masing bernama :
I. Horpanaloean dianugerahi tuan Maligas.
II. Podang Rani dianugerahi Tuan Naposo.
III. Sirhata dianugerahi Tuan Jawa Tongah
IV. Batoerat dianugerahi Tuan Maraja
V. Anggaralawan dianugerahi Tuan Jawa Maraja.

I. Horpanaluan mempunyai putra 3 orang masing-masing bernama :
  1. Djintar.
  2. Sangmadjadi
  3. Djara.
 
 I.1. Djintar mempunyai putra 3 orang masing-masing bernama : 
        1. Kaliasan
        2. Djohan
        3. Djoa

I.1.1. Kaliasan mempunyai putra 4 orang masing-masing bernama:
         1. Adenan  
         2. Asman
         3. Anwar
         4. Efendi

 I.1.1.1. Adenan mempunya putra 4 orang masing-masing bernama :
             a. Arifin
             b. Edy
             c. Arwansyah
             d. Henrico
             e. Jhon
             f.  Purtonei
             g. Kadespa

 I.1.2. Djohan (Tuan Bosar Maligas) 
 I.1.3. Djoa wafat semasih muda.
      
I.2. Sangmadjadi mempunyai putra 3 orang masing-masing bernama :
      1. Kaliamsjah
      2. Omsjah
      3. Kalam

I.2.1. Kaliamsjah mempunyai putra 2 orang masing masing bernama:
             1. Irwansyah
             2. Indrawansyah

I.2.1.1. Irwansyah mempunyai putra 2 orang masing-masing bernama:
            a. Ferry Irawan
            b. Murti 

I.2.1.2. Indrawansyah mempunyai putra 2 orang masing-masing bernama:
            a. Ilham
            b. Fariz

I.2.2. Omsjah mempunyai putra 1 orang bernama :
            1. Ahmad Isfani (Vence)

I.2.2.1. Ahmad Isfani mempunyai 1 orang putra bernama :
            a. Anggi Purwo.

I.3. Djara (belum ada data)

II.Podang Rani mempunyai putra 2 orang masing-masing bernama :
    1. Toenggal.
    2.Sangborain

II.1. Toenggal mempunyai 3 orang putra masing-masing bernama :
       1. Rakimta
       2. Torhaita
       3. Itoek

II.2. Sangborain (belum ada data)

III. Sirhata mempunya putra 1 orang bernama :
      1. Gontar

III.1. Gontar mempunyai putra 4 orang masing-masing bernama :
         1. Djontarani.
         2. Tongon.
         3. Djintan
         4. Djintahadin.

IV. Batoerat mempunyai putra 3 orang masing-masing bernama:
     1. Saihat
     2. Sorga
     3. Dongmahalim
 
IV.1. Saihat mempunyai putra 3 orang masing-masing bernama : 
        1. Etah
        2. Kariman
        3. Mahat

IV.2. Sorga mempunya putra 3 orang masing-masing bernama :
         1. Djontama.
         2. Anggita..
         3. Doedoek.

IV.3. Dongmahalim mempunyai putra 2 orang masing-masing bernama :
         1. Dongharani.
         2. Karim.

V. Anggaralawan mempunyai putra 2 orang masing-masing bernama :
    1. Odim mempunyai putra bernama Mamad
    2. Gonta mempunyai putra bernama Tasim.

Partuanon Maligas terdiri dari :
1. Partuanon/Raja Maligas (induk)
2. Partuanon Naposo
3. Partuanon Jawa Tongah
4. Partuanon Maraja
5. Partuanon Jawa Maraja
6.Partuanon Bosar Maligas
7. Partuanon Pagar Jawa.


Stamboom Partuanon Maligas




data sewaktu-waktu akan disempurnakan

Selasa, 07 Agustus 2012

Museum Simalungun


Penulis : M Nur Irwansyah Sinaga SH.



Sejarah berdiri Museum Simalungun


Berawal dari disertasi Dr. A.N.J. Th. Van Der Hoop berjudul "Megalitich Remains in South Sumatera" (1932) mengupas tentang  megalitik di Sumatera Selatan.

Berdasarkan hal tersebut Kontelir Simalungun yang bernama G.L. Tichelman melakukan penelitian di Simalungun dengan mengundang Raja Marpitu, Tichelman menyarankan agar melaksanakan Harungguan Bolon (Rapat Akbar) membicarakan tentang  warisan megalitik yang ada di Simalungun.

Pada tanggal 5 September 1935 dilaksanakanlah Harungguan Bolon tersebut dengan kesepakatan menghunjuk salah seorang yang bernama M Purba, untuk melakukan survey ke setiap daerah yang memiliki warisan megalitik. Warisan megalitik yang sangat berharga pada masa itu adalah patung (batu) Silapalapa yang berasal dari daerah Partuanon Hutabayu Marubun, atas izin dari Tuan Hutabayu Marubun Radja Ihoet Sinaga  pada tahun 1938 patung Silapa-lapa dibawa oleh Voorhoeve  ke  Negeri Belanda dan disimpan di Museum Rijks Amsterdam.

Museum Simalungun


 Tanggal 10 April 1939 Museum Simalungun didirikan atas prakarsa  Raja Marpitu (7 raja-raja Simalungun) dengan biaya 1.650 gulden dan pada tgl 30 April 1940 museum Simalungun diresmikan.
Dengan diresmikannya museum Simalungun tersebut raja-raja marpitu memberikan sumbangan untuk mengisi koleksi museum berupa Pustaha Lak-lak, Patung-patung batu peninggalan megalitik, peralatan dapur, peralatan makan, peralatan tenun, peerhiasan emas dan perak, koin dan uang dan lain sebagainya

Maka oleh karenanya selain dari pada benda-benda yang menjadi koleksi, Museum Simalungun merupakan lembaran peristiwa sejarah yang sangat penting bagi bangsa Simalungun, mengingat kepedulian raja-raja marpitu terhadap generasi yang akan datang untuk tidak melupakan sejarah Simalungun.
Yang perlu di garis bawahi Museum Simalungun ini yang pertama sekali berdiri di Sumatera Utara, Museum Simalungun berdiri atas sumbangan para raja marpitu dan bukan milik Pemerintah.

Pada tahun 1968 dimasa kepemimpinan bupati Radjamin Purba, SH, Museum Simalungun yang keseluruhannya terbuat dari kayu tersebut di renovasi, karena banyak kerusakan disana sini.
Namun perbaikan museum tidak dapat bertahan lama mengingat bangunannya yang terbuat dari kayu. Untuk menyelamatkan benda-benda koleksi Museum maka pada tahun 1982 pada masa bupati Letkol (Purn) JP. Silitonga Museum tersebut diruntuh dan dibangun kembali dengan bahan dari semen namun tetap meniru bentuk aslinya. Bangunan yang baru dengan ukuran 8 x 12 m didirikan diatas lahan seluas 1.500 m2, di lokasi yang sama.

Koleksi Museum Simalungun.

Berbagai koleksi yang ada di Museum Simalungun yang terletak di Pusat kota Pematangsiantar antara lain adalah :

Dihalaman depan museum terdapat situs-situs peninggalan megalitik diantaranya buah catur raja nagur yang berukuran sebesar manusia, patung batu seorang ibu yang memangku 2 orang anak, patung orang yang menunggangi gajah, patung-patung ini berasal dari Kerajaan Tanah Jawa.

Didalam museum ditemukan berbagai macam koleksi antara lain :

1.    Peralatan Rumah Tangga seperti :
-    Parborasan = Tempat menyimpan beras
-    Pinggan Pasu = Piring nasi untuk Raja
-    Tatabu = Tempat menyimpan air
-    Abal-abal = Tempat menyimpan garam
-    Samborik = tempat sirih terbuat dari kuningan
-   Baluhat = tempat air dari bamboo
-   Sapah = piring dari kayu
-   Patiman = mangkok tempat lauk pauk terbuat dari kayu


2.    Peralatan Pertanian seperti :
-     Losung = alat penumbuk padi
-    Wewean = alat memintal tali
-    Hudali = cangkul jaman dulu
-    Assuan = cangkul dari batang enau
-    Tajak = Alat membajak tanah
-    Parlobong = kayu utk membuat lobang menanam bibit padi
-    Agadi  = Alat menyadap nira
-    dsb.

3.    Peralatan Perikanan seperti :
-    Bubu = Penangkap Ikan dari Bambu
-    Taduhan = Tempat menyimpan ikan
-    Hirang-lurang = Jaring penampung ikan
-    Hail = Kail
-    dsb.

4.    Alat-alat Kesenian seperti :
 -    Ogung   
 -    Sarunai
 -    Mong-mong   
 -    Sordam
 -    Hesek   
 -    Arbab
 -    Gondrang   
 -    Husapi,
 -   dsb.

5.    Alat-alat perhiasaan, seperti :
-    Suhul gading =  keris
-    Raut = pisau
-    Gotong = Penutup kepala laki-laki
-    Bajut = Tas Wanita
-    Bulang = Tudung kepala Wanita
-    Suri-suri = Selendang Wanita
-    Gondit = Ikat pinggang pria
-    Doramani = Perhiasan topi pria menandakan kedudukan.


Benda-benda koleksi Museum Simalungun

Benda-benda koleksi Museum Simalungu
 
Kondisi Saat ini

Pada Hut Museum Simalungun ke 71  tahun 2011 yang lalu penulis berkunjung kemuseum,
kondisi museum memprihatinkan, baran-barang  peninggalan sejarah itu dibiarkan lapuk dan tidak terawat tanpa adaya upaya pengawetan dan perawatan yang maksimal, bahkan ada yang hanya diletakkan dilemari tanpa penutup juga banyak yang diletakkan begitu saja dilantai maupun disandarkan di dinding.
Pengunjung yang datang ke museum juga sangat sedikit bahkan dari tahun ke tahun semakin berkurang, ini dapat dilihat dari data pengunjung yang tertera di kantor museum.


Tidak ada upaya meramaikan kunjungan ke museum oleh pengelola yang di percayakan kepada Yayasan Museum, ini terjadi karena tidak dibekali ilmu permuseuman, begitu juga petugas yang ada hanya sebatas honorer yang minus pengetahuannya di bidang permuseuman termasuk juga pengetahuan terhadap benda-benda koleksi dan sejarahnya yang ada di museum serta yang paling utama adalah dukungan dana yang sangat minim oleh pemerintah daerah, sehingga upaya mengenalkan museum dan perawatan terkendala.

Meriam, koleksi Museum Simalungun

Koleksi Museum Simalungun banyak yang berhilangan, cerita seorang teman benda-benda koleksi yang tinggal hanya berkisar 20% dari jumlah yang ada sebelumnya.
Menurut cerita orang tua penulis bahwa di museum tersebut tersimpan bibit/butir padi sebesar buah kelapa, tengkorak manusia, pedang, meriam dan lain sebagainya.
Namun ketika penulis berkunjung ke museum, butir padi, tengkorak manusia, pedang, meriam yang dikatakan orang tua penulis sudah tidak kelihatan lagi, hal ini juga dibenarkan teman penulis, dimana pada masa kanak-kanak dia sering berkunjung ke museum tersebut di bawa orang tuanya dan masih ada dilihatnya butir padi tersebut.
Yang menjadi pertanyaan kepada kita “kemanakah benda-benda tersebut raibnya?”
“Siapa yang bertanggung jawab dengan raibnya benda-benda tersebut?”.

Kalau sudah demikian halnya apalagi yang dapat disajikan sebagai informasi kepada generasi mendatang tentang peradaban yang berkaitan erat dengan kebudayaan 7 Kerajaan Simalungun pada masa lalu


Menurut penulis kurangnya ke pedulian Pemerintah Kabupaten Simalungun di karenakan Museum itu sendiri saat ini berada di wilayah administratif Pemerintahan Kota Pematang Siantar yang dulunya merupakan wilayah Kabupaten Simalungun, sementara lahan dan museum serta benda-benda yang ada diatasnya merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten Simalungun berdasarkan latar belakang berdirinya Museum Simalungun itu sendiri, kemungkinan hal ini yang membuat keengganan pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk secara serius menangani museum simalungun tersebut.

Reaksi Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Pada tanggal 22-2-2011 Bupati Simalungun JR Saragih datang berkunjung ke Museum Simalungun yang berada di Jalan Sudirman Kota Pematang Siantar yang disambut oleh ketua Yayasan Museum Simalungun Jomen Purba, bupati menyampaikan rasa prihatinnya menyaksikan kondisi bangunan Museum Simalungun ini dihadapan Ketua Yayasan Museum, para wartawan dan sejumlah SKPD yang mendampingi bupati.

Pemerintah Kabupaten Simalungun merencanakan akan memindahkan Museum Simalungun ke Pamatang Raya yaitu ke ibukota kabupaten Simalungun.
Museum yang baru direncanakan akan menggunakan Gedung Kantor Bupati yang tidak dipergunakan lagi karena membutuhkan biaya yang sangat besar untuk perbaikan gedung apabila dipergunakan sebagai kantor pemerintahan, sebaiknya dimanfaatkan menjadi Museum Simalungun dengan biaya perbaikan yang tidak terlalu besar, dirancang menjadi berstandard International.

Bupati mengatakan, dalam proses perpindahan museum ini nantinya akan di bentuk panitia yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat Simalungun serta keturunan dari  ketujuh raja-raja Simalungun  yaitu, Raja Siantar, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Dolok Silou dan Silimakuta.

Namun rencana Bupati Simalungun tersebut menjadi perbincangan hangat di tengah tengah masyarakat Simalungun ada yang pro dan kontra. Yang menjadi permasalah adalah letak dan rencana berdirinya museum simalungun itu sendiri merupakan Tonggak sejarah yang sangat penting bagi masyarakat simalungun serta Museum dibangun atas Prakarsa Raja-raja di Simalungun dan bersama mengumpulkan dana untuk pembangunannya, letaknya sangat strategis untuk dikunjungi baik oleh wisatawan manca Negara maupun wisatawan lokal karena merupakan daerah perlintasan menuju ke Danau Toba Prapat, kalau museum di pindahkan ke raya akan sepi dari kunjungan karena letaknya yang tidak strategis karena bukan jalan perlintasan yang ramai.  Apabila dipindahkan akan hilang salah satu sejarah yang pernah ada di bumi simalungun. Masyarakat berharap di lokasi yang lama itu cukup untuk dibangun kembali museum simalungun yang bertaraf international yang di prakarsai oleh pemerintah kabupaten simalungun bekerjasama dengan pemerintahan kota siantar yang juga merupakan wilayah masyarakat adat simalungun serta meminta bantuan pemerintah pusat.


Bagaimana tanggung jawab masyarakat Simalungun?

Komunitas Jejak Simalungun  (KJS) sebuah komunitas yang berbadan hukum bergerak dibidang sejarah dan budaya Simalungun, didalam komunitas tersebut berkumpul generasi muda Simalungun pecinta sejarah dan budaya simalungun yang bersikap militant. Komunitas ini didalam menjalankan kegiatannya bersifat independen tanpa dukungun dari pihak pemerintah, mereka bergerak dengan biaya dari masing-masing anggotanya juga bantuan simpatisan dari sesama pecinta sejarah dan budaya Simalungun.

Melihat kondisi Museum Simalungun yang mati suri Komunitas Jejak Simalungun mencoba memancing/ mencuri perhatian agar museum ramai kembali dan pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemerintah Kota Siantar mau peduli dengan masa depan Museum Simalungun tersebut.

Penulis bersama Rudin H Purba, Ketua KJS yang pertama, di acara HUT Museum Simalungun

Rangkaian Suasana HUT Museum Simalungun ke 71 tahun 2011

Memanfaatkan momentum HUT Museum Simalungun yang ke 71 pada tanggal 30 April 2011, dengan bermodalkan uang yang hanya cukup membeli sebuah kue tart ulang tahun, KJS menghubungi semua anggotanya dan simpatisan yang ada di luar daerah untuk dapat membantu biaya pelaksanaan HUT dimaksud. Akhirnya kebutuhan tenda, sound system, dan makanan ringan dan minuman  ala kadarnya dapat dipenuhi, serta papan bunga dari para simpatisan yang berada di luar daerah memenuhi halaman Museum Simalungun. Begitu juga dengan rekan seperjuangan dalam hal budaya yaitu Komunitas Tortor Elak Elak turut meramaikan acara dengan seni tortor dan diharnya.
Acara ini berlangsung dengan cukup meriah dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat seperti Mr Jariaman Damanik, dr Sarmedi Purba, perwakilan dari PMS, anggota DPRD Simalungun, Pemkab Simalungun juga masyarakat dan generasi muda Simalungun.

Setelah membuat acara HUT Museum Simalungun, KJS juga merencanakan dan membangun kafe budaya di halaman belakang museum dengan harapan banyak orang yang hadir untuk berdiskusi mengenai sejarah dan budaya Simalungun, dan diharapkan akan meramaikan museum dihari hari yang akan datang.

Dengan semangat membangun budaya simalungun KJS memprakarsai dibentuknya  sanggar budaya di Museum dengan mengadakan latihan tortor, dihar, gual dan doding, yang rutin dilaksanakan kepada para siswa yang berminat tanpa di pungut bayaran.
                                                                                                      
Pada akhir tahun 2011 tepatnya di bulan desember, Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu berlibur di Sumatera Utara untuk melaksanakan Misa Natal di Samosir, sebelum keberangkatan ibu menteri ke Samosir, KJS memprakarsai kehadiran ibu menteri di Museum Simalungun, kepada ibu menteri KJS menyerahkan proposal berupa rencana untuk memajukan Museum Simalungun.

Bagaimana nasib Museum Simalungun di hari yang akan datang? Mari kita lihat bersama.

Minggu, 05 Agustus 2012

H Mangipuk Sinaga


Oleh : M Nur Irwansyah Sinaga, SH



RIWAYAT HIDUP
Haji Mangipuk Sinaga bin Radja Ihoet Sinaga bin Sanggah Goraha Sinaga bin Djoengmani Sinaga bin Oesoel Sinaga



Lahir di Huta Bayu Marubun, Kec Tanah Jawa, Simalungun, pada tanggal  5-10-1924.
Anak dari (alm) Tuan Raja Ihut Sinaga dgn (almh) Mariani br Tindaon.
  
 
Menikah bulan Juni tahun 1958 dengan Istri Hajjah Nurlen binti (alm) Ahmad Sanisi bin (alm) Haji Muhammad Noer (Alang).

Anak – anak :

1.     Muhammad Nur Alamsyah Sinaga SH
2.     Muhammad Nur Irwansyah Sinaga SH
3.     Ir. Hajjah Nurlelan br Sinaga
4.     dr. Hajjah Nurlelin br Sinaga
5.     Ardhi Bachri Sinaga
6.     Hajjah Nurlelun Sinaga SH

Cucu- cucu ;

1.     Andit Anggia Moyani br Sinaga(kakak)
2.     Muhammad Fakhru Reza Sinaga (Reza)
3.     Isti br Sinaga
4.     Muhammad Airlangga (Angga)
5.     Nayla Aflah br Sinaga
6.     Gusti Nugraha Pradipta Sinaga
7.     Amira Fatin br Sinaga
8.     Farrah Aqiela br Sinaga
9.     Muhammad Indra  Wardi Hadi Guna (wawan)

Tahun 1938 : lulus dari HIS Vervolk School di Tanah Jawa
Tahun 1945 : bergabung dengan Lasykar Rakyat (Napindo)
Tahun 1946 : bergabung dg Kesatuan Divisi X Polisi Tentara (umur 22 thn) dg Komandan bernama AH. Siagian.
Tahun 1947 : Diangkat menjadi Komandan Pleton Divisi X dengan pangkat Letnan satu, tugas mempertahankan Kota P. Siantar basis pertahanan Jembatan Sinaksak pada masa Agresi Meliter Belanda I. (Pada tanggal 29 Juli 1947, sejumlah 9 orang anggotanya gugur dan dikubur oleh masy Tambun dipimpin oleh lurah Marzuki), kemudian beliau membawa pasukannya mundur ke Simbolon dan bergabung dengan Mobrig.
Tahun 1949 : Bergerilya didaerah Tangga Batu Sitapulak Kec Tanah Jawa kemudian tertangkap oleh Militer Belanda dan ditahan di Pematang Siantar.
Tahun 1949: bulan Desember diperintahkan oleh Gubernur Militer F L. Tobing bertugas di Pemerintahan Sipil yaitu Panitia Negara menangani masalah Tanah Tanah Garapan Perkebunan Sumatera Timur.
Tahun 1953 : Diangkat menjadi Camat Tanjung Morawa, menangani masalah pentraktoran tanah garapan yang dikenal dengan Peristiwa Traktor Kuning, kemudian ditarik kembali ke Kantor Gubernur.
Tahun 1957 : Berdiri Departemen Agraria beliau diangkat menjadi KTU Inspeksi Agraria Sumatera Utara.
Tahun 1965 : s/d thn 1972 menduduki jabatan  Kepala Sub Direktorat Landreform, Direktorat Agraria Propinsi Sumatera Utara.
Tahun 1972 : s/d 1985 menduduki jabatan KTU Direktorat Agraria Propinsi Sumatera Utara dan pensiun dari PNS.
Tahun 1978 : Menunaikan Ibadah Haji bersama istri.
Tahun 1985 : s/d 1995 menjadi Pejabat Pembuat Akta Tanah wilayah Kerja Kotamadya Medan.

 Wafat : Jumat, 3 Pebruari 2012,  pukul 14.00 wib
    Dikebumikan Sabtu, 4 Pebruari 2012, ba’da zuhur.     

Riwayat Hidup ini disampaikan langsung oleh Beliau kepada Putranya yang bernama Muhammad Nur Irwansyah Sinaga SH, pada tahun 2005, dan beliau meminta untuk dicatat. Catatan Perjuangan Kemerdekaan beliau juga tercatat di dalam buku THE GOLDEN BRIGDE ( Jembatan Emas) 1945 yang dirangkum oleh Letnan Kolonel (Purn) Mansyur  dan di dalam buku TETES EMBUN DI BUMI SIMALUNGUN dirangkum oleh Drs. Haji Tukidjan Pranoto.
Yang diterbitkan oleh Yayasan Keluarga Juang 1945

Partuanon Huta Bayu Marubun

Oleh : M Nur Irwansyah Sinaga SH.

Kronologi Partuanon Hutabayu Marubun

Raja SORGAHARI dari Kerajaan Tanah Jawa mempunyai 2 orang putra.
Putranya masing-masing bernama: 
1. Oesoel Madjadi.
2.  Djintanari.
ad 1. Oesoel Madjadi memperistri panak boru raja dari Simarimboen,
Dari perkawinan Oesoel Madjadi dengan istrinya memperoleh 2 (dua) orang putra bernama :
1. Angaranim
2. Djoengmani 

Oleh sang ayah  Raja SORGAHARI beliau diberi gelar Tuan Marubun dan diberi wilayah kekuasaan/Partuanon dengan nama Marubun
 Tuan Marubun memerintah serta mengatur hajat hidup rakyat diwilayah partuanon marubun tetapi tetap tunduk dibawah kekuasaan Kerajaan Tanah Jawa di Tanah Jawa sebagai Pemerintah Pusat.

Pusat Pemerintahan Partuanon Marubun terletak di Simpang Tangsi desa Balimbingan ( RS PTPN IV Balimbingan).
Wilayah Partuanan Marubun meliputi:
sebelah utara sampai dengan Tanggabatu,
sebelah selatan sampai dengan Taratak Bosar Maligas (Tinjoan),
sebelah Barat sampai dengan Simpang Hataran Jawa (Sungai Bah Hilang),
sebelah timur sampai dengan Pematang Tanah Jawa (istana Raja Tanah Jawa).

 Desa yang masuk wilayah Marubun meliputi desa, Timbaan, desa Pendawa Lima, desa Tangga Batu, desa Marubun Jaya, desa Nagori Bayu Marubun, desa Marimbun, desa Bosar Majawa, desa Taratak Bosar Maligas dan desa Hataran Jawa.
ad 2. Djintanari, memperistri panak boru raja dari Bandar.
 Dari perkawinan Djintanari dengan istrinya memperoleh seorang putra bernama : Timboel.
Karena kedua anak Raja Sorgahari sudah dewasa dan sudah berkeluarga raja membuat Kebijakan antara lain:
- Sebagai anak tertua Tuan Oesoel Madjadi dari Partuanon Marubun diangkat sebagai Pemangku Adat Kerajaan.

- Apabila raja mangkat maka  raja berikutnya (pengganti raja) adalah kedua putranya secara bergantian dengan persetujuan dari Tuan Marubun sebagai Pemangku Adat Kerajaan beserta Perangkat Kerajaan dengan mengadakan Harungguan Bolon, begitu seterusnya ke generasi berikutnya.
Setelah Raja Sorgahari wafat maka Oesoel Madjadi sebagai Pemangku Adat Kerajaan bersama dengan Perangkat Kerajaan Tanah Jawa mengadakan Harungguan Bolon (Musyawarah)  dengan keputusan mengangkat DJINTANARI sebagai Raja dan panak boru dari Bandar menjadi Puang Bolon Kerajaan Tanah Jawa.

Dimasa Pemerintahan Djintanari suatu peristiwa peperangan yang tidak dapat dihindarkan terjadi antara Kerajaan Tanah Jawa dengan Kerajaan Asahan. 
Didalam pertempuran tersebut Raja Djintanari tewas di pancung oleh B. Pane Raja Asahan.
Melihat peristiwa itu abangda Oesoel Madjadi tidak tinggal diam dan tampil kedepan membalas kematian adiknya kepada Raja Asahan dan membunuhnya.

Setelah perang berakhir maka diangkatlah Tuan Marubun yaitu OESOEL MADJADI sebagai Raja, selain raja beliau juga Pemangku Adat Kerajaan Tanah Jawa.
Oesoel Madjadi kemudian menikahi janda adiknya yang telah wafat dalam peperangan tersebut, dari perkawinan tersebut lahirlah seorang putra bernama Djimmalawan.
Setelah  Oesoel Madjadi wafat beliau di makamkan di lingkungan Rumah Bolon/Istana Tuan Marubun di Desa Balimbingan/RS PTPN IV Balimbingan (sampai saat ini kuburan tersebut masih ada disana) maka putranya nomor 2 yang bernama DJOENGMANI diangkat sebagai Tuan Marubun  dan juga sebagai Pemangku Adat Kerajaan Tanah Jawa.
Djoengmani tinggal di istana ayahnya di Simpang Tangsi.
Djoengmani mempunyai seorang putra bernama SANGGAH GORAHA diberi gelar Tuan Huta Bayu Marubun dan diberi wilayah Partuanon yaitu Huta Bayu Marubun.

Pada suatu masa Raja Tanah Jawa mengontrakkan (Konsesi) tanah kepada Belanda, tanah yang dikontrakkan termasuk wilayah kekuasaan Partuanon Marubun. Perusahaan milik Belanda tersebut bernama Handel Vreniging Amsterdam (HVA). Dengan alasan telah mendapat Konsesi dari Raja Tanah Jawa, pihak Belanda membakar Rumah Bolon/Istana Partuanon Marubun. Belanda sangat benci dengan Tuan Marubun karena tidak pernah mau tunduk kepada Pemerintah Belanda.

Karena wilayah Partuanon Marubun telah dikuasai oleh pihak perusahan Belanda dan dijadikan areal perkebunan Tuan Marubun pindah kerumah putranya Tuan Huta Bayu Marubun yaitu Sanggah Goraha. 
Di Huta Bayu Marubun inilah DJOENGMANI meninggal dunia dan dikebumikan disana, pada masa itu beliau masih menganut kepercayaan lokal.








Makam Opung Djoengmani yang berada di tengah sawah milik alm Tuan Haji Mangipuk Sinaga di Desa Huta Bayu Marubun (sebelum pemekaran) Kec Tanah Jawa kabupaten Simalungun (Foto: Jum'at 08 Juli 2012 )







 Pada tahun 1905 sampai dengan tahun 1912 Tuan Sanggah Goraha  (Tuan Huta Bayu Marubun) diangkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jawa.
Sama halnya seperti ayahnya, Sanggah Goraha tidak pernah mau tunduk didalam urusan pemerintahan belanda, karena prinsip Sanggah Goraha, dia dengan raja belanda mempunyai hubungan pertemanan sehingga kedudukan mereka adalah sederajat.
Prisipnya ini yang menjadi pemicu kericuhan dengan pegawai pemerintahan belanda dan Sanggah Goraha tidak pernah takut untuk menghadapinya dan setiap saat melakukan perlawanan.
Sejalan dengan perlawanan Sanggah Goraha dengan pegawai pemerintah belanda bersamaan dengan itu terjadi pemberontakan di Pondok Buluh di Tiga Dolok oleh rakyat dari Kerajaan Tanah Jawa karena kekejaman Marsose belanda.

Dengan perlawanan yang terus menerus tersebut Sanggah Goraha dikejar kejar oleh tentara belanda yang akhirnya Sanggah Goraha tertangkap oleh belanda dan dibuang ke Batubara.
Di Batu Bara beliau ditahan dirumah Datuk Batubara yang pada masa itu telah takluk dengan belanda.
Di Batu Bara inilah Sanggah Goraha memeluk agama Islam dimana penduduk Batubara pada umumnya pemeluk agama Islam.
Pada masa Tuan Djintar hendak dikukuhkan menjadi Raja Tanah Jawa seluruh Pembesar-pembesar/ Perangkat kerajaan Tanah Jawa tidak dapat melaksanakan Harungguan Bolon karena Pemangku Adat Kerajaan yaitu Tuan Sanggah Goraha tidak berada di tempat karena di tawan oleh Belanda di Batubara, sementara pihak Belanda mendesak Puang Bolon untuk segera mengangkat Raja yang baru. Puang Bolon kemudian meminta kepada Pemerintah Belanda agar Tuan Sanggah Goraha dibebaskan. 
Setelah mendapat keputusan bebas dari Pemerintah Belanda, Puang Bolon/permaisuri (ibunda Tuan Djintar) bersama pembesar kerajaan menjemput Tuan Sanggah Goraha ke Batubara. Dan Tuan Djintar dinobatkan menjadi Raja.
Pada tahun 1930 Sanggah Goraha meninggal dunia dan dimakamkan di sebuah bukit kecil di kampung Huta Bayu Marubun dan pemakaman itu menjadi pemakam keluarga dari Partuanon Huta Bayu Marubun. 
Putra dari Sanggah Goraha ada 3 orang yaitu :
1. Tuan Radja Ihoet Sinaga (Partuanon Huta Bayu Marubun).
2. Tuan Bindoe Sinaga (Partuanon Dolok Marubun)
3. Tuan Djintaradja Sinaga (Partuanon Marubun)
Pada masa Tuan Radja Ihoet menjadi Partuanon Huta Bayu Marubun, oleh Raja Tanah Jawa pada saat itu Raja Sangmadjadi, wilayah Partuanon Hoeta Bayu Marubun di mekarkan  menjadi 4 wilayah;
1. Huta Bayu Marubun di pimpin oleh Radja Ihoet,
2. Dolok Marubun dipimpin adik ke 2 nya Bindoe Radja,
3. Marubun dipimpin oleh Djintaradja adik bungsunya dan
4. Tangga Batu menjadi wilayah kepenghuluan yang pimpinannya diangkat dari rakyat biasa atas usul Tuan Radja Ihoet.
Hal ini dilakukan Raja Tanah Jawa atas desakan pemerintah belanda untuk memperlemah kekuatan Partuanon Huta Bayu Marubun yang merupakan keturunan dari Partuanon Maroeboen yang selalu memberontak kepada pihak belanda.




TUAN RADJA IHOET SINAGA
 (Partuanon Huta Bayu Marubun)


Toean Hoetabayoe Maroeboen
Collectie : KITLV
Bescrijving :Countroleur van Siantar en Toen Maroeboen Tanoh Djawa Radja Ihoet Sinaga (Rechts) bij een auto in de Batak Landen
Bijzonderheden : 23 Datering Opname, 1937-1941
Datum : 1945
Collektiy : Voorhoeve, Dr P / Barchem

Foto Radja Ihoet Sinaga thn 1988





Batu nisan Makam T Radja Ihoet Sinaga
Lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1997 tutup usia 118 tahun, di makamkan disebelah makam ayah dan ibunya di bukit pekuburan keluarga.
istrinya boru Tindaon, seperti ibunya juga boru Tindaon.

Dari perkawinan ini mempunyai putra 2 orang dan putrinya 4 orang,

Tuan H Kaliamta Sinaga (Kacamata) & Tuan H Mangipuk Sinaga



















Putranya bernama :

1. Tuan H. Kaliamta Sinaga bin Tuan Radja Ihoet Sinaga
     Lahir   : Huta Bayu Marubun, 12 Agustus 1921. wafat : Jum'at, 8 Juni 2012, pukul 10.30 wib
     istrinya bernama Hj Sortailim br Damanik binti Tuan Sawadin Damanik (Radja van Siantar)
     Lahir : Pematang Bandar (P.Siantar)  Wafat: 1 Juli 1993 di Medan.

2. Tuan H. Mangipuk Sinaga bin Tuan Radja Ihoet Sinaga.
     Lahir  : Ht Bayu Marubun 5 Oktober 1926. Wafat : Jumat, 3 Pebruari 2012,  pukul 14.00 wib
    Dikebumikan Sabtu, 4 Pebruari 2012, ba’da zuhur.     
Putri-putrinya bernama :
1. Siti Kala binti Tn Radja Ihoet Sinaga (almh)
2. Siti Enim binti Tn Radja Ihoet Sinaga (almh)
3. Siti Nen binti Tn Radja Ihoet Sinaga (almh)
4. Siti Ahad binti Tn Radja Ihoet Sinaga

Setelah istrinya wafat dan dikubur di halaman rumah bolon Partuanon Huta Bayu Marubun, Tuan Radja Ihoet Sinaga menikah lagi dgn boru Manurung dan memperoleh 4 orang putra dan 2 orang putri.
putranya bernama :
1. Drs H. Amansyah Sinaga  bin Tuan Radja Ihoet Sinaga. (alm)
2. Tukarma bin Tuan Radja Ihoet Sinaga. (alm)
3. Sehatman bin Tuan Radja Ihoet Sinaga.
4. Ir Effendi Sinaga bin Tuan Radja Ihoet Sinaga.

putrinya bernama :
1.
2. Betty Sinaga binti Tn Radja Ihoet Sinaga



CUCU-CUCU Tuan Radja Ihoet Sinaga: 
Cucu dari anak laki-laki
 
 1. Hj. Siti Mauyum Sinaga  bin Tn H Kaliamta Sinaga
 2. Prof dr H Usul Majadi Sinaga SpB Finacs (K) Trauma bin Tn H Kaliamta Sinaga (alm)
 3. Prof dr Hj Siti Morin Sinaga M.Sc, Apt binti Tn H Kaliamta Sinaga
 4. Hj Siti Moyana Sinaga SE binti Tn H Kaliamta Sinaga
 5. Drg. Hj Siti Morani Sinaga  binti Tn H Kaliamta Sinaga (almh)

 6. M Nur Alamsyah Sinaga SH bin Tn H Mangipuk Sinaga
 7. M Nur Irwansyah Sinaga SH bin Tn H Mangipuk Sinaga
 8. Ir. Hj Nurlelan Sinaga binti Tn H Mangipuk Sinaga
 9. dr Nurlelin Sinaga  binti Tn H Mangipuk Sinaga
10. Ardi Bakhri Sinaga bin H Mangipuk Sinaga
11. Hj Nurlelun Sinaga SH binti H Mangipuk Sinaga
M Nur Irwansyah Sinaga SH beserta Keluarga
Perkawinan M Nur Irwansyah Sinaga SH


12. Syawalina Fitri br Sinaga SP
13. drg Syawalini br Sinaga
14. Jungmani Sinaga
15. Nunun br Sinaga
16.Mira br Sinaga
17. Hasanul Arif Sinaga SE SSit

18. Suisan  br Sinaga
19.
20. 
21. 

22. Uli
23.
24. 
25. Putra Sinaga

26.
27.
28. Beby br Sinaga
29. Sanggah Nugraha

Cucu dari anak Perempuan

30. Sopin Silalahi
31. Riama br Silalahi
32. Ir Sudirman Silalahi.
33. Basaria br Silalahi
34. Ir. Zakaria.
35. Riamsa br Silalahi

 36. Nurhayati br Damanik
37. Darwin Damanik
38. Darma Damanik SH MH
39. Nuriati SH (wakil Bupati Simalungun)
40. Kutong.
41. Burhan Damanik.
42. Netty br Damanik
43.            br Damanik
44. Ir Rabukit Damanik

45. Ros br Siahaan
46. Uli Sintong Siahaan
47. Murfi Siahaan
48. Timbul Siahaan
49. Darma Siahaan

50. Risma br Damanik SSos.
51. DR Rizal Martuah Damanik, MRepSc,PhD
52. Kartini br Damanik
53. Kiki Damanaik

54. Erwin Silalahi SSit
55.
56.
57.
58.
59.
60.

 Posted by eonesinaga di Senin, Mei 25, 2009, posting ulang & koreksi